Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Cara menerapkan Metode CTL dalam belajar

Cara menerapkan  Metode CTL dalam belajar

Under arsip: Perkuliahan.com.

next post : Model Pembelajaran Konstruktivisme
data post: Perkuliahan.com. edition of : 225/ apa yang dimaksud dengan  Pembelajaran metode CTL

Perkuliahan kali ini kita akan membahas tentang : Pelaksanaan Metode CTL atau biasa disebut dengan metode CTL( Contextual Teaching and Learning

 

Pembelajaran dengan CTL akan memungkinkan proses yang secara alamiah dan kemudian peserta didik dapat mempraktikkan secara langsung berbagai materi yang telah dipelajarinya. Pembelajaran CTL mendorong peserta didik memahami hakikat, makna dan manfaat belajar sehingga akan memberikan stimulus dan motivasi kepada mereka untuk rajin dan senantiasa belajar.

CTL diterapkan dalam proses pembelajaran, maka niscaya guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan kenyataan peserta didik serta mendorong mereka untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan praktik kehidupan mereka, baik sebagai anggota keluarga maupun sebagai anggota masyarakat. Dengan penerapan model ini hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi peserta didik. Oleh karenanya proses pembelajaran harus berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan peserta didik bekerja dan mengalami, bukan dalam bentuk transfer pengetahuan dari guru ke peserta didik.

Dalam proses kependidikan, faktor metode adalah merupakan faktor yang urgen. Oleh karena itu merupakan faktor yang ikut menentukan terhadap sukses atau tidaknya dalam pencapaian tujuan pendidikan. Hubungan antara metode dan tujuan pendidikan boleh dikatakan merupakan sebab akibat, manakala metode pendidikan yang digunakan baik dan tepat maka tujuan pendidikan yang telah dirumuskan besar kemungkinan dapat tercapai dengan gemilang. Dan hal ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW sebagaimana berikut:

لِكُلِّ شَيْءٍ طَرِيْقٌ وَطَرِيْقُ الْجَنَّةِ الْعِلْمُ (رواه الديلمي)

Artinya:   “Segala sesuatu ada caranya (metodenya). Dan cara (metode) untuk masuk surga adalah ilmu.” (HR. Ad-Dailami).[1]

 

Untuk merangsang peserta didik menjadi lebih progresif dalam menggunakan pengetahuan dan keterampilan di kehidupan nyata sehingga memiliki motivasi tinggi untuk belajar diperlukan beberapa strategi dan pendekatan pembelajaran yang relevan dengan model CTL yang antara lain:[2]

1)      Pembelajaran Berbasis Problematik

Sebelum memulai pembelajaran di kelas, peserta didik terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena. Kemudian peserta didik diminta untuk mencatat problem-problem yang muncul. Setelah itu tugas guru adalah merangsang peserta didik untuk berpikir kritis untuk memecahkan problem dan selanjutnya mengarahkan peserta didik untuk bertanya, membuktikan asumsi dan mendengarkan perspektif yang berbeda di antara mereka.

2)      Memanfaatkan lingkungan peserta didik untuk memperoleh kegiatan pembelajaran

Guru memberikan penugasan yang dapat dilaksanakan di berbagai konteks lingkungan peserta didik di antara lain madrasah atau sekolah, keluarga dan masyarakat dimana mereka bermain dan bermasyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk belajar di luar kelas. Misalnya peserta didik keluar dari ruang kelas dan berinteraksi langsung untuk melakukan wawancara. Peserta didik diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktifitas belajar yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar dan materi pembelajaran.

3)      Memberikan aktivitas kelompok

Aktivitas belajar secara kelompok dapat memperluas perspektif serta membangun kecakapan interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain. Guru dapat menyusun kelompok terdiri dari tiga, lima maupun delapan peserta didik sesuai dengan tingkat kesulitan penugasan.

4)      Membuat aktivitas belajar mandiri

Peserta didik dituntut untuk mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru. Supaya dapat melakukannya peserta didik harus memperhatikan bagaimana mereka memproses informasi, menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh. Model pembelajaran kontekstual harus terlebih dahulu melakukan uji coba, menyediakan waktu yang cukup dan melakukan refleksi, serta berusaha tanpa meminta bantuan guru supaya dapat melakukan proses pembelajaran secara mandiri (independent learning).

5)      Membuat aktivitas belajar bekerja sama dengan masyarakat

Madrasah dapat melakukan kerja sama dengan orang tua peserta didik yang memiliki keahlian khusus untuk menjadi guru tamu. Hal ini perlu dilakukan guna memberikan pengalaman belajar secara langsung di mana peserta didik dapat termotivasi untuk mengajukan pertanyaan. Selain itu kerja sama juga dapat dilakukan dengan institusi atau perusahaan tertentu untuk memberikan pengalaman kerja.

6)      Menerapkan penilaian autentik

Penilaian autentik dapat membantu peserta didik untuk menerapkan informasi akademik dan kecakapan yang telah diperoleh pada situasi nyata untuk tujuan tertentu.  Penilaian autentik memberikan kesempatan luas bagi peserta didik untuk menunjukkan apa yang mereka pelajari selama proses belajar mengajar. Adapun penilaian yang dapat digunakan oleh guru adalah portofolio, tugas kelompok, demonstrasi dan laporan tertulis.

Sedangkan menurut Elaine B. Johnson, Ph.D, dalam bukunya “Contextual Teaching & Learning Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna” ada tujuh strategi yang perlu ditempuh, selain keenam strategi di atas ada satu lagi strategi yang perlu diperhatikan yaitu:[3]

Mengejar standar tinggi, standar unggul sering dipersepsikan sebagai jaminan untuk mendapat pekerjaan, atau minimal membuat siswa merasa pede untuk menentukan pilihan masa depan. Frasa “standar unggul” seyogianya terus menerus dibisikkan pada telinga siswa untuk mengingatkan agar menjadi manusia kompetitif pada abad persaingan sekarang ini.

Dengan demikian, sekolah sebaiknya menentukan kompetensi lulusan yang dari waktu ke waktu terus ditingkatkan. Setiap sekolah sebaiknya melakukan benchmarking (uji mutu) dengan melakukan studi banding ke berbagai sekolah dalam dan luar negeri.

Untuk memahami teori dan implementasinya dalam dunia pendidikan, ada empat konsep kunci yang saling terkait yaitu teaching, learning, intruction, dan curiculum. Keempat konsep itu saling terkait sebagai berikut. Teaching adalah refleksi sistem kepribadian sang guru yang bertindak secara profesional. Learning adalah refleksi sistem kepribadian siswa yang menunjukkan perilaku yang terkait dengan tugas yang diberikan, instruction adalah sistem sosial tempat berlangsungnya mengajar dan belajar sedangkan curriculum adalah sistem sosial yang berujung pada sebuah rencana untuk pengajaran.

Dengan merujuk pada kerangka teaching, learning, instruction dan curriculum sebagaimana didefinisikan di atas, dalam CTL guru berperan sebagai fasilitator tanpa henti (reinforcing) yakni membantu siswa menemukan makna (pengetahuan). Seperti dibahas di atas, siswa memiliki respons yang bersifat kodrati. Keinginan untuk menemukan makna adalah sangat mendasar bagi manusia. Tugas utama pendidik adalah memberdayakan potensi kodrati ini sehingga siswa terlatih menangkap makna dari materi yang diajarkan.[4]



[1] Jalaludin Ibn Abdurrahman Ibn Abi Bakar Al-Suyuti, Al-Jami’u Al-Shogir, Jilid II, Nur Asiya, Semarang, hal. 128

[2] Drs. H. Khaerudin, M.A., Drs. Mahfudz Junaedi, M.Ag, dkk., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, Konsep dan Implementasinya di Madrasah, Pilar Media, Jogjakarta, 2007, hal. 203

[3] Elaine B.Johnson,Ph.D, Contextual Teaching & Learning Menjadikan Kegiatan Belajar Mengajar Mengasyikkan dan Bermakna, Mizan Learning Center (CTL), Bandung, 2009, hal. 22

[4] Ibid, hal.19

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*