Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Cara menanggulangi Kenakalan Remaja

Cara menanggulangi Kenakalan Remaja menurut para ahli

Under arsip:  Perkuliahan.com.

Post title :Cara menanggulangi Kenakalan Remaja menurut para ahli

Post  Category   :tips dan  Cara menanggulangi Kenakalan Remaja menurut para ahli

data post: perkuliahan.com edition of : 96

setelah sebumnya perkuliahan.com  memposting  tulisan resuman skripsi sdraku, dengan judul cara mengatasi kenakalan remaja. dan kali ini dilanjutkan dengan tema yang sama namun dengan klasifikasi yang berbeda yaitu penanggulangan kenakalan remaja menurut para ahli. semoga materi perkuliahan.com ini bermanfaat buat sesama

Penanggulangan Kenakalan Remaja Menurut Para Ahli

 Banyak pendapat tentang penanggulangan kenakalan remaja, namun yang disebut para ahli bimbingan dan konseling adalah Zakiah Daradjat dan Sarlito Wirawan Sarwono. Menurut Zakiah Daradjat dan Sarlito Wirawan Sarwono,  penanggulangan kenakalan remaja dengan cara-car

a.   Peningkatan pendidikan agama

Pendidikan agama harus dimulai dari rumah tangga, sejak si anak masih kecil.[1] Kadang-kadang orang menyangka bahwa pendidikan agama itu terbatas pada ibadah, sembahyang, puasa, mengaji dan sebagainya. Padahal pendidikan agama harus mencakup keseluruhan hidup dan menjadi pengendali dalam segala tindakan.[2] Dengan agama, manusia dilatih dan diberi jalan bagaimana menguasai musuh-musuh dirinya yang jahat. Karena itulah agama menjadi sumber moral dan sumber akhlak. Islam  sendiri diturunkan dan Nabi Muhammad SAW diutus, tidak lain adalah juga dalam rangka mission moral ini. Sebuah hadits nabi menerangkan :

Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. Nabi SAW bersabda:hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. (H.R. Ahmad).

b.  Orang tua harus mengerti dasar-dasar pendidikan

Menurut Zakiah Daradjat apabila pendidikan dan perlakuan yang diterima oleh si anak  sejak kecil merupakan sebab-sebab pokok dari kenakalan anak-anak, maka setiap orang tua haruslah mengetahui betul-betul dasar-dasar pengetahuan yang minimal tentang jiwa si anak dan pokok-pokok pendidikan yang harus dilakukan dalam menghadapi bermacam-macam sifat si anak. Untuk membekali orang tua dalam menghadapi persoalan anak-anaknya yang dalam umur remaja, orang tua perlu pengertian sederhana tentang ciri remaja, psikologi remaja.[3]

c. Pengisian waktu luang dengan teratur

Dalam memikirkan cara pengisian waktu terluang, kita jangan membiarkan si anak mencari jalan sendiri. Anak-anak terutama yang sedang meningkat usia remaja, sedang sibuk dengan dirinya sendiri, karena mereka sedang menghadapi perubahan yang bermacam-macam dan menemui banyak sekali problema-problema pribadi. Apabila mereka tidak pandai mengisi waktu terluang mungkin mereka akan tenggelam dalam memikirkan diri sendiri, akan menjadi pengelamun, jauh dari kenyataan.

d.  Membentuk markas-markas bimbingan dan penyuluhan

Untuk mengurangi kegelisahan dan kebingungan dalam menghadapi kesusahan dan problema hidup perlu adanya biro konsultasi atau badan yang dapat memberikan bimbingan dan penyuluhan.

Persoalan hidup, baik yang oleh orang secara pribadi maupun berkelompok, jika tidak segera diselesaikan, dapat bertambah berat dan menimbulkan komplikasi jiwa karena kadang-kadang orang tidak mampu memahami persoalan

e.  Pengertian dan pengalaman ajaran agama

Apabila seseorang beragama tanpa mengerti ajaran-ajaran yang terkandung dalam agama tersebut, akan berakibat tidak diamalkannya agama tersebut. Maka orang tua yang demikian tidak dapat diharapkan akan memberikan pendidikan budi pekerti yang sesuai dengan agama kepada anak-anak. Bahkan tindakan-tindakan orang tua yang kurang baik akan ditiru oleh anak-anaknya.

f. Penyaringan buku-buku cerita, komik, film dan sebagainya.

Hendaknya setiap cerita akhirnya yang dibaca, dilihat atau didengar oleh anak-anak mempunyai mutu dan nilai-nilai paedagogis, agar jangan sampai mereka menemukan teladan-teladan yang tidak baik dalam cerita-cerita tersebut. Sebagai kesimpulan dapat kita katakan jika ingin mengubah dan memperbaiki anak-anak yang nakal dan mencegah jangan sampai anak-anak kita pada suatu ketika menjadi nakal, maka faktor dan masalah-masalah mulai dari rumah tangga, sekolah dan masyarakat harus kita perbaiki di samping menolong anak-anak itu sendiri.[5]

Sedangkan menurut Rogers (Adams & Gullataa) sebagaimana dikutif oleh Sarlito Wirawan Sarwono,  ada 5 ketentuan yang harus dipenuhi untuk membantu remaja:

  1. Kepercayaan

Remaja itu harus percaya kepada orang yang mau membantunya (orang tua, guru, psikolog, ulama dan sebagainya). Ia harus yakin bahwa penolong ini tidak akan membohonginya dan bahwa kata-kata penolong ini memang benar adanya. Untuk memenuhi ketentuan pertama ini, seringkali tenaga profesional (psikolog, konselor) lebih efektif dari pada orang tua atau guru sendiri, oleh karena remaja yang bersangkutan sudah terlanjur mempunyai penilaian tertentu kepada orang tua atau gurunya sehingga apapun yang dilakukan orang tua atau guru tidak akan dipercayainya lagi.di pihak lain tenaga profesional ini tidak dikenal oleh remaja kecuali dalam jam-jam konseling saja. Dengan demikian kata-kata psikolog atau konselor itu lebih bisa dipercayainya karena tidak dibandingkan dengan tingkah laku sehari-hari dari psikolog atau konselor itu sendiri.[6]

  1. Kemurnian hati

Remaja harus merasa bahwa penolong itu sungguh-sungguh mau membantunya tanpa syarat. Ia tidak suka kalau orang tua misalnya mengatakan “bener deh, mama sayang sama kamu, dan mama bantu kamu, tapi kamu mesti ngerti dong, pelajaranmu itu kan penting. Pelajaranmu dulu utamakan, nanti yang lainnya mama bantu deh, ini kan buat kepentinganmu sendiri”. Buat remaja, kalau membantu, bantu saja, tidak perlu ditambahi “tetapi-tetapi”. Karena itulah remaja lebih sering minta nasihat teman-temannya sendiri walaupun temen-temennya itu tidak bisa memberi nasihat atau mencarikan jalan keluar yang baik.

  1. Kemampuan mengerti dan menghayati (emphaty) perasaan remaja.

Dalam posisi yang berbeda antara anak dan orang dewasa (perbedaan usia, perbedaan status, perbedaan cara berpikir dan sebagainya) sulit bagi orang dewasa (khususnya orang tua) untuk berempathi pada remaja karena setiap orang (khususnya yang tidak terlatih) akan cenderung untuk melihat segala persoalan dari sudut pandangannya sendiri dan mendasarkan penilaian dan reaksinya pada pandangannya sendiri itu. Di pihak remajanya sendiri ada kecenderungan sulit untuk menerima uluran tangan orang dewasa, karena mereka tidak ada emphati terkandung di dalam uluran tangan itu. Berbeda dari reaksi teman-teman sebayanya sendiri yang bagaimanapun juga akan memberikan reaksi yang penuh empathi karena merasa senasib, walaupun mereka tidak bisa menawarkan bantuan yang maksimal.[7] Di sinilah diperlukan lagi bantuan tenaga profesional yang memang sudah terlatih untuk membangun empathi terhadap klien-klien yang dihadapinya.

  1. Kejujuran

Remaja mengharapkan penolongnya menyampaikan apa adanya saja, termasuk hal-hal yang kurang menyenangkan. Apa yang sudah dikatakan salah, apa yang benar, dikatakan benar. Yang tidak bisa diterimanya adalah jika ada hal-hal yang ada pada dia, disalahkan, tetapi pada orang lain atau pada orang tuanya sendiri dianggap benar.

  1. Mengutamakan persepsi remaja sendiri[8]

Sebagaimana sudah dikatakan di atas, sebagaimana halnya dengan semua orang lainnya, remaja akan memandang segala sesuatu dari sudutnya sendiri. Terlepas dari kenyataan atau pandangan orang lain yang ada, buat remaja, pandangannya sendiri itulah yang merupakan kenyataan dan ia bereaksi terhadap itu. Maka kalau misalnya ia memandang guru Bahasa Inggrisnya jahat, maka jahatlah guru itu dan remaja itupun akan membenci guru itu, walaupun misalnya semua orang mengatakan bahwa guru itu baik. Kemampuan untuk mengerti pandangan remaja itu berikut seluruh perasaan yang ada di balik pandangan itu merupakan modal untuk membangun empathi terhadap remaja.[9]


[1] Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, cet.10, (Jakarta: PT Gunung Agung, 1983), .hlm.101

[2] Zakiah Daradjat, Membina Nilai-Nilai Moral Indonesia, cet 4, (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), hlm 48.

[3] Zakiah Daradjat, Remaja Harapan dan Tantangan, cet 2, (Jakarta: Ruhama, 1995), hlm. 75

[4] Ibid, hlm 48.

[5] Ibid, hlm. 125.

[6] Sarlito Wirawan Sarwono, op. cit, .hlm.230.

[7] Ibid.

[8] Ibid, hlm. 230-232

[9] Ibid.a

Cara menanggulangi Kenakalan Remaja menurut para ahli

Under arsip:  Perkuliahan.com.

Category: Psikologi
  • lanang says:

    ngapain cuma segitu aja penjelasannya

    October 2, 2012 at 14:22

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*