Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

AYAT MAKKIAH MADANIAH DALAM AL – QUR‘AN

Under arsip: Perkuliahan.com.

next post : Model Pembelajaran Konstruktivisme
data post: Perkuliahan.com. edition of : 227/ 

AYAT MAKKIAH MADANIAH DALAM AL-QUR‘AN *

Oleh : Wahyudi Ja‘far, S.Ag

Penulis adalah alumni Program Pendidikan Kader Ulama (PPKU) Ulumul
Qur’an dan Tafsir, Magister Studi Islam, UNSIQ Wonosobo
 
Persoalan Makki-Madani dalam ulumul Qur‘an termasuk persoalan yang sangat penting. Urgensi permasalahan tersebut terlihat dalam kitab-kitab tafsir dan ulumul Qur‘an hampir semuanya, kalau bukan

semua, menjadikan salah satu pembahasan utama bahkan paling awal dibahas setelah pengertian al-Qur‘an. Meski pembahasannya sangat sederhana, tidak sekompleks dengan tema-tema ilmu-ilmu al-Qur‘an

yang lain, tapi sebenarnya ia sangat urgen untuk diketahui. Karena dengan mengetahuinya, seorang mufassir atau orang yang mengkaji al-Qur‘an akan mendapat petunjuk dengan kemampuan memetakan ayat naskh-mansukh. Karenanya, wawasan Makki-Madani menjadi dasar atau starting poin menuju pembahasan nasikh-mansukh, tanpa mengetahuinya maka persoalan nasikh-mansukh juga akan kabur. Hal ini menjadi salah satu alasan kenapa ia menjadi tema yang didahulukan daripada tema-tema yang lain.

Persoalan Makki dan Madani menarik untuk dikaji karena tidak adanya riwayat langsung dari Rasulullah Saw., melainkan para ulama hanya bersandar pada riwayat sahabat dan tabi‘in tentang klasifikasi

ayat Makki-Madani. Bahkan tidak jarang ulama hanya bersandarkan pada ijtihadi dalam pengklasifikasian. Namun, tidak berarti bahwa persoalan itu semuanya ijtihadi. Cukup menjadi pegangan dari riwayat

sahabat yang melihat langsung cara penurunan wahyu.

Di samping itu, semakin menjadi penting untuk dicermatipersoalan ini setelah munculnya tuduhan-tuduhan orientalis terkait dengan ayat Makki-Madani sebagai indikasi bahwa al-Qur‘an

terpengaruh oleh budaya dan lingkungan, yang pada akhirnya akan mengatakan bahwa al-Qur‘an adalah non-ilahi. Persoalan-persoalan tersebut, dalam makalah sederhana ini akan dibahas secara sederhana

pula dengan mencoba melakukan pendekatan deskriftif-analisis, dengan harapan bahwa melalui tulisan ini menjadi pengantar sekaligus gambaran umum tentang Makki-Madani. Teori Makki-Madani

Abul Qasim al-Hasan bin Muhammad bin Habib an-Naisabuuri

dalam bukunya at-Tanbih al fadli Ulumil Qur‘an bahwa “Diantara

ilmu-ilmu yang paling mulia adalah ilmu tentang nuzulul qur‘an dan

daerahnya, urutan turunnya di Mekkah dan di Madinah, tentang yang

diturunkan di Mekkah tetapi hukumnya madani dan sebaliknya, dan

tentang yang diturunkan di Juhfah, di Baitul Makdis, Taif, atau

Hudaibiyah, di waktu siang, diturunkan secara bersama-sama, atau

diturunkan secara sendiri-sendiri, ayat-ayat madaniah dari surah-surah

al-Makkiah, ayat-ayat Makkiah dalam surah Madaniah; yang dibawa

dari Mekkah ke Madinah dan yang dibawa dari Madinah ke Mekkah;

yang dibawa dari Madinah ke Abesinia, yang diturunkan secara global

dan yang telah dijelaskan, serta yang diperselisihkan sehingga

sebagian orang mengatakan Madani dan sebagian mengatakan Makki.

Itu semua ada duapuluh lima macam. Orang yang tidak mengetahuinya

dan tak dapat membeda-bedakannya, ia tidak berhak berbicara

tentang Qur‘an”1.

Statement di atas menunjukkan pentingnya mengetahui ayat

Makki dan Madani sebagai salah satu alat yang membantu dalam

memahami maksud ayat tertentu. Tidak mengherankan kemudian jika

pembahasan tersebut menjadi pembahasan yang didahulukan daripada

pembahasan ilmu-ilmu al-Qur’an yang lain. Dengan demikian, An-

Naisaburi di atas secara tegas mengatakan bahwa seseorang tidak

berhak berbicara al-Qur‘an kecuali telah mengetahui persoalan Makki-

Madani. Kemudian Manna Al-Kattan merinci poin per poin

pembahasan tersebut sebagai berikut: 1) ayat yang turun di Mekkah

2) yang turun di Madinah; 3) yang diperselisihkan; 4) ayat-ayat

Makkiah dalam surah Madaniah; 5) ayat Madaniah dalam surah

Makkiah; 6) yang diturunkan di Mekkah sedang hukumnya di

Madinah; 7) yang diturunkan di Madinah sedang hukumnya di

Mekkah; 8) yang serupa dengan yang diturunkan di Mekkah (makki)

dalam kelompok madani; 9) yang serupa diturunkan di Madinah

(madani) dengan kelompok Makki; 10) yang dibawa dari Mekkah ke

Madinah; 11) yang dibawa dari Madinah ke Mekkah; 12) yang turun

waktu malam dan siang; 13) yang turun musim panas dan dingin;

14) yang turun waktu menetap dan dalam perjalanan2.

Tolak Ukur Makki-Madani

Dalam hal ini Az-Zarkasyi telah mengklasifikasi beberapa

pendapat tentang definisi ayat-ayat Makki-Madani. Menurutnya, ada

tiga pendapat dalam persoalan istilah Makki-Madani; a) Ayat Makki

adalah ayat yang turun di Mekkah, sedangkan Ayat Madani adalah

apa yang turun di Madinah; b) Ayat Makki, pendapat Mayoritas, adalah

apa yang turun sebelum hijrah meski turun di Madinah, sedangkan

ayat Madini adalah ayat yang turun setelah hijrah meski turun di

Mekkah; c) terakhir adalah jika ayat itu dirujukan kepada penduduk

Mekkah maka ia Makki, sedangkan jika Mukhatabnya penduduk

Madinah maka ia ayat Madani3.

Klasifikasi di atas mempunyai konsekuensi tertentu. Misalnya

pendapat pertama bahwa Makki dan Madani ditinjau dari segi tempat.

Maka ayat yang turun di Mekkah adalah Makkiah meski ayat tersebut

turun setelah Hijrah, sebaliknya ayat yang turun di Madinah maka ia

adalah madani. Karenanya menurut Hadi Ma‘rifah bahwa ayat turun

selain di Mekkah dan Madinah bukan Makki ataupun Madani dengan

mengutip satu riwayat yang dinukil oleh Jalaluddin Suyuthi bahwa

Rasulullah Saw. bersabda “Ayat al-Qur‘an diturunkan dalam tiga

tempat: Mekkah, Madinah dan Syam4.

Sedangkan konsekuensi pendapat ke dua yang melihat dari segi

zaman turunnya sebuah ayat; makkiah adalah yang turun sebelum

hijrah sedangkan Madaniah adalah yang turun sesudah hijrah, yaitu

ayat-ayat yang diturunkan kepada Rasulullah Saw. ketika masih diperjalanan,

meski telah keluar di Mekkah, tapi belum masuk Madinah

maka dianggap sebagai Makkiah. Seperti (QS. al-Qashash: 85)

sesungguhnya yang mewajibkan atasmu al-Qur`an, benar-benar akan

mengembalikan kamu ke tempat kembali…” Beda halnya dengan poin ke

tiga yang melihat dari segi isi. Dimana sebuah ayat apakah Makki

atau Madani dilihat dari kontennya, jika berbicara tentang orang kafir

maka ia Makki, sedangkan jika membahas orang beriman maka ia

adalah Madani. Hal itu sesuai dengan riwayat Abdullah bin Mas`ud

bahwa setiap surah yang didalamnya terdapat kata-kata ’wahai

Manusia’ adalah Makkiah. Setiap surah yang di dalamnya terdapat

’hai orang-orang beriman’ adalah Madaniah5.

Namun, tolak ukur di atas jika berdiri sendiri tidak bisa menjadi

sebagai tolak ukur universal karena misalnya, dalam surah Madaniah

seperti al-Baqarah juga terdapat kata-kata “Wahai manusia…” Sehingga

ketiga tolak ukur di atas harus digabungkan dengan ditambah lagi

dengan dua metode lainnya sebagaimana yang dikatakan oleh Al-

Allamah Burhanuddin Ibrahim bin Umar bin Ibrahim Ju`bari6 yaitu

cara sama`i dan Qiyasi. Hal itu senada dengan ulasan Manna Al-

Qattan yang mengatakan bahwa ada dua sandaran dalam mendeteksi

satu ayat, apakah Makkiah atau Madaniah? yaitu; sima`inaqli (pendengaran

seperti apa adanya dan Qiyasi ijtihadi (kias hasil ijtihad)7.

Menurutnya bahwa cara pertama ini yang mendominasi dalam kitabkitab

asbabul nuzul. Metode ini juga bersandar pada riwayat sahih

dari para sahabat yang menyaksikan langsung bagaimana dan dimana

ayat turun, serta para tabi`in yang menerima langsung dari sahabat.

Sedangkan cara qiyas ijtihadi adalah cara yang bersandar pada ijtihad

bukan pada riwayat. Cara ini hanya melihat sifat sebuah ayat. Apabila

dalam surah al-Makkiah ada sebuah ayat yang sifatnya Madani maka

ayat itu Madani, dan apabila dalam surah Madinah terdapat ayat yang

sifatnya Makkiah maka ia ayat Makkiah.

Kriteria-kriteria di atas hanyalah ciri-ciri umum, belum final.

Mengabsolutkan satu kriteria Makki-Madani menurut Nasr Hamid

Abu Zaid akan menyusahkan kita, meski secara pribadi dia mendukung

pendapat mayoritas tentang Makki-Madani; yaitu ditinjau dari

segi waktu hijrah, ayat yang turun sebelum Hijrah maka ia Makki,

dan Madani adalah yang turun setelahnya, baik turun di Makkah

ataupun di Madinah, pada tahun penaklukan (Makkah) atau haji wada,

atau dalam perjalan8. Karenanya, kriteria klasifikasi seharusnya didasarkan

pada realitas, pada satu sisi, dan pada teks pada sisi lain. Karena

teks bergerak bersama realitas yang pada akhirnya mempengaruhi isi

dan strukturnya. Hal ini sesuai dengan realitas dalam al-Qur‘an bahwa

ayat Makki struktur ayatnya pendek-pendek dan dengan penuh i‘jaz

dan balaghat tinggi, karena pada saat itu ia berkomunikasi dengan

orang Makki yaang secara watak terkenal keras kepala, dan mahil

dalam balaghat. Ayat yang pendek dengan penuh i‘jaz karena karena

sebagai tahaddi pada penyair-penyair orang Musyrik sehingga ayatayat

Makki juga biasanya dimulai dengan huruf muqata‘ah. Masih

menurut Nasr Hamid, pada fase indzar yaitu Makki, ayat al-Qur‘an

benar-benar memakai metode dakwah yang melihat objek yang

didakwahi. Kebanyakan ayat Makki menggunakan kata-kata persuasif,

sedangkan pada Fase Risalah atau Madani ayat al-Qur‘an cenderung

panjang-panjang karena memang objek dakwahnya berbeda dan lebih

pada transformasi informasi dan lebih banyak terkait dengan hukum

Islam syariah islamiah daripada persoalan akidah9.

Tulisan bersambung ke bagian dua…

…………………….

1 Jalaluddin As-Suyuti: al-itqan fi ulum al-qur‘an, tahqiq oleh Markaz ad-dirasat al-Qur‘aniyah,
juz. I tnp. thn. hal. 43-44.
2 Manna Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur‘an terj, Mabahis fi Ulumil Qur‘an oleh Mudzakit
As. (Bogor, Pustaka Litera Antar NUsa cet. 8, 2004) hal. 73.
3 Az-Zarkasyi; Al-Burhan Fi ‘Ulumil Qur‘an, ditahqiq Muhammad Abu Fadl Ibrahim, Juz I,
Kairo, dar. At-Turast, tnp. thn. hal. 187.
4 M. Hadi Ma‘rifat, Sejarah Al-Qur‘an, ter. dari Tarikh al-Qur‘an oleh Thoha Musawa, (Jakarta,
Al-Huda, cet. I, 2007), hal. 68-70. lihat, as-Suyuti, al-Itqanjuz. hlm 23.
5 Lihat Az-Zarkasyi hal. 187.
6 M. Hadi Ma‘rifat, Sejarah Al-Qur‘an, ter. dariTarikh Al-Qur‘an olehThohaMusawa, (Jakarta,
Al-Huda, cet. I, 2007), hal. 68-70.
7 Manna al-Qattan, Op.cit. 82.

  *Dikutip dari  Jurnal MANARUL QUR’AN yang dicetak oleh Pusat Penelitian, Penerbitan & Pengabdian Masyarakat (P3M) Universitas Sains Al-Qur’an Wonosobo edisi Nomor: 09 Tahun VII, Januari – Maret 2012

Category: Artikel Islam

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*