Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Askep Asuhan Keperawatan Sindrom Stevens Johnson

Askep Asuhan Keperawatan Sindrom Stevens-Johnson

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan/title post  : makalah kesehatan /Askep Asuha Keperawatan Sindrom Stevens-Johnson

Bidang  postingan / post category  : makalah ILMU kesehatan,Askep Asuha Keperawatan Sindrom Stevens-Johnson,  makalah Keperawatan, makalah kesehatan, makalah kedokteran. (makalah dalam postingan perkuliahan.com telah linkable to others post, dengan tips support google to post title :Askep

 

for : key search this post : apa pengertian Sindrom Stevens Johnson, makalah tentang Sindrom Stevens Johnson, askep sindrom

………………………………………………………………………..

bank data materi perkuliahan.com seri : 68

Askep Asuhan Keperawatan Sindrom Stevens Johnson

KATA PENGANTAR

 Alhamdulilahhirobil ‘alamin. Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua. Sehingga kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul “Askep Sindrom Stevens-Johnson”.

Kami mengucapkan terimakasih kepada dosen selaku dosen pengampu yang telah mempercayai kami untuk mengerjakan tugas ini.

 

BAB I

PENDAHULLUAN

  1. Latar Belakang

Sindrom Stevens-Johnson, biasanya disingkatkan sebagai SJS, adalah reaksi buruk yang sangat gawat terhadap obat. Efek samping obat ini mempengaruhi kulit, terutama selaput mukosa. Juga ada versi efek samping ini yang lebih buruk, yang disebut sebagai nekrolisis epidermis toksik (toxik epidermal necrolysis/TEN). Ada juga versi yang lebih ringan, disebut sebagai eritema multiforme (EM).

  1.  Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini agar mahasiswa keperawatan sebagai calon perawat dapat mengetahui dan memahami tentang penyakit / gangguan system integumen              “ Sindrom Steven Jhonson “ dan mengetahui penanganan dan penatalaksanaan.

  1. Batasan Masalah

Banyak kasus – kasus mengenai system integument tetapi penulis hanya membatasi masalah tenatang  Sindrom Steven Jhonson

  1. Metode dan teknik penulisan

 Dalam menulis makalah ini penulis mengunakan sistematika penulisan studi pustaka keperawatan. Penulis menggunakan methode ini untuk mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam mempelajarinya.

Sistematikanya sebagai berikut terdiri atas : DAFTAR ISI, Kata Pengantar, BAB I PENDAHULUAN,  Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Sistematika Penulisan, BAB II TINJAUN TEORITIS , Pengertian, Etiologi, Patofisiologi, Manifetasi  Klinis, Komplikasi, Pemeriksaan Penunjang         , Diagnosis, Diagnosis Banding, Penatalaksanaan, Prognosis, Rencana Askep, BAB III Penutup, Kesimpulan, Saran dan Kritik, Daftar pustaka             

 

 BAB II\TINJAUAN TEORITIS

A.    Definisi

Sindrom Steven-Johnson (SSJ) adalah sindrom kelainan kulit berupa eritema, vesikel/bula, dapat disertai purpura yang mengenai kulit, selaput lender orifisium, dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari baik sampai buruk. SJJ merupakan suatu kumpulan gejala klinis erupsi mukokutaneus yang ditandai oleh trias kelainan pada kulit vesikulobulosa, mukosa orifisium serta mata disertai gejala umum berat.(www.medicastore.com)

Sindrom steven-jhonson (ekstodermosis  erosive pluriorifisialis, sindrom mukokutanea ocular, eritema multiformis tipe hebra, eritema multiforme mayor, eritema bolusa maligna ) adalah sindrom kelainan kulit berupa eritema, vesikel/bula, dapat disertai purpura yang mengenai kulit, selaput lender orifisium dan mata dengan keadaan umum bervariasi dari baik sampai buruk.

(Kapita Selekta Kedokteran edisi 3 )

B.    Etiologi

Etiologi SSJ yang pasti belum diketahui, Beberapa  penyebab timbulnya SSJ diantaranya :

Ø  infeksi (virus, jamur, bakteri, parasit)

Ø  obat (salisilat, sulfa, penisilin, etambutol, tegretol, tetrasiklin, antipiretik/analgetik (misalnya: derivate salisil/pirazolon, metamizon, metampiron, dan parasetamol)

Ø  klorpromazin, karbamazepin, kinin, aspirin, jamu, digitalis, kontraseptif)

Ø  fisik (udara dingin, sinar matahari, sinar X)

C.     Patofisiologi

Patogenesis SSJ sampai saat ini belum jelas walaupun sering dihubungkan dengan reaksi hipersensitivitas tipe III (reaksi kompleks imun) yang disebabkan oleh kompleks soluble dari antigen atau metabolitnya dengan antibodi IgM dan IgG dan reaksi hipersensitivitas lambat (delayed-type hypersensitivity reactions, tipe IV) adalah reaksi yang dimediasi oleh limfosit T yang spesifik. Oleh karena proses hipersensitivitas, maka terjadi kerusakan kulit sehingga terjadi :

  1. Kegagalan fungsi kulit yang menyebabkan kehilangan cairan
  2. Stres hormonal diikuti peningkatan resisitensi terhadap insulin, hiperglikemia dan glukosuriat
  3. Kegagalan termoregulasi
  4. Kegagalan fungsi imun
  5. Infeksi

D.    Manifestasi Klinis

Sindrom ini umunya terdapat pada anak dan dewasa, jarang dijumpai pada usia 3 tahun kebawah. Gejala prodromal berkisar antara 1-14 hari berupa demam, malaise, batuk, korizal, sakit menelan, nyeri dada, muntah, pegal otot dan atralgia yang sangat bervariasi dalam derajat berat dan kombinasi gejala tersebut.

Triase SSJ atau timbul lesi di :

  1. Kulit berupa eritema, papel, vesikel, atau bula secara simetris pada hampir seluruh tubuh.
  2. Mukosa berupa vesikel, bula, erosi, ekskoriasi, perdarahan dan kusta berwarna merah. Bula terjadi mendadak dalam 1-14 hari gejala prodormal, muncul pada membran mukosa, membran hidung, mulut, anorektal, daerah vulvovaginal, dan meatus uretra. Stomatitis ulseratif dan krusta hemoragis merupakan      gambaran utama.
  3. Mata : konjungtivitas kataralis, blefarokonjungtivitis, iritis, iridosiklitis, kelopak mata edema dan sulit dibuka, pada kasus berat terjadi erosi dan perforasi kornea yang dapat menyebabkan kebutaan. Cedera mukosa okuler merupakan faktor pencetus yang menyebabkan terjadinya ocular cicatricial pemphigoid, merupakan inflamasi kronik dari mukosa okuler yang menyebabkan kebutaan. Waktu yang diperlukan mulai onset sampai terjadinya ocular cicatricial pemphigoid bervariasi mulai dari beberapa bulan sampai 31 tahun.

E.    Komplikasi

  1. Bronkopneumonia (16%)
  2. sepsis
  3. kehilangan cairan/darah
  4. gangguan keseimbangan elektrolit
  5. syok
  6. kebutaan gangguan lakrimasi

 

F.      Pemeriksaan Penunjang

  1. Pemeriksaan Laboratorium

Ø  Tidak ada pemeriksaan labor (selain biopsi) yang dapat membantu dokter dalam menegakkan diagnosa.

Ø  Pemeriksaan darah lengkap (CBC) dapat menunjukkan kadar sel darah putih yang normal atau leukositosis nonspesifik. Penurunan tajam kadar sel darah putih dapat mengindikasikan kemungkinan infeksi bakterial berat.

Ø  Pemeriksaan elektrolit

Ø  Kultur darah, urine, dan luka diindikasikan ketika infeksi dicurigai terjadi.

Ø  Pemeriksaan bronchoscopy, esophagogastro duodenoscopy (EGD), dan kolonoskopi dapat dilakukan

 

  1. Imaging Studies

Ø  Chest radiography untuk mengindikasikan adanya pneumonitis

  1. Pemeriksaan histopatologi dan imonohistokimia dapat mendukung ditegakkannya diagnosa.

 

G.    Diagnosis

Diagnosis ditujukan terhadap manifestasi yang sesuai dengan trias kelainan kulit, mukosa, mata, serta hubungannya dengan faktor penyebab yang secara klinis terdapat lesi berbentuk target, iris atau mata sapi, kelainan pada mukosa, demam. Selain itu didukung pemeriksaan laboratorium antara lain pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan imunologik, biakan kuman serta uji resistensi dari darah dan tempat lesi, serta pemeriksaan histopatologik biopsi kulit. Anemia dapat dijumpai pada kasus berat dengan perdarahan, leukosit biasanya normal atau sedikit meninggi, terdapat peningkatan eosinofil. Kadar IgG dan IgM dapat meninggi, C3 dan C4 normal atau sedikit menurun dan dapat dideteksi adanya kompleks imun beredar. Biopsi kulit direncanakan bila lesi klasik tak ada. Imunoflurosesensi direk bisa membantu diagnosa kasus-kasus atipik.

 

H.    Diagnosis Banding

Ada 2 penyakit yang sangat mirip engan sindroma Steven Johnson:

  1. Toxic Epidermolysis Necroticans. Sindroma steven johnson sangat dekat dengan TEN. SSJ dengan bula lebih dari 30% disebut TEN. nekrosis epidermal toksik (NET) dimana manifestasi klinis hampir serupa tetapi keadaan umum NET terlihat lebih buruk daripada SSJ.
  2. Staphylococcal Scalded Skin Syndrome (Ritter disease). Pada penyakit ini lesi kulit ditandai dengan krusta yang mengelupas pada kulit. Biasanya mukosa terkena.

I.       Penatalaksanaan

Pada umumnya penderita SSJ datang dengan keadaan umum berat sehingga terapi yang diberikan biasanya adalah

1.     Cairan dan elektrolit, sertakalori dan protein secara parenteral.

2.     Antibuotik spectrum luas

3.     Kortikosteroid parenteral: deksametason dosis awal 1mg/kg BB bolus, kemudian selama 3 hari (0,2-0,5)mg/kg BB tisp 6 jam. Penggunaan steroid sistemik masih kontroversi. Ada yang menganggap bahwa penggunaan steroid pada anak bisa menyebabkan penyembuhan yang lambat dan efek samping yang signifikan, namun ada juga yang menganggap steroid menguntungkan dan menyelamatkan nyawa.

4.     Antihistamin bila perlu. Terutama bila ada rasa gatal. Feniramin hydrogen maleat (Avil) dapat diberikan dengan dosis untuk usia 1-3 tahun: 7,5mg/dosis, untuk usia 3-12 tahun: 15mg/dosis, 3 kali/hari. Sedangkan untuk setrizin dapat diberikan dosis untuk usia 2-5tahun: 2,5mg/dosis, 1 kali/hari; ≥ 6 tahun: 5-10mg/dosis,1 kali sehari. Perawatan kulit dan mata serta pemberian obat antibiotic topical.

5.     Bula di kulit dirawat dengan kompres basah larutan Burowi.

6.     Tidak diperbolehkan menggunakan steroid topical pasa llesi kulit.

7.     Lesi mulut diberi kenalog in orabase.

8.     Terapi infeksi sekunder dengan antibiotika yang jarang menimbulkan alergi, berspektum luas, bersifat bacterisidal dan tidak bersifat nefrotoksik, misalnya Klindamisin intravena 8-16mg/kg/hari.

 

J.      Prognosis

Pada kasus yang tidak berat, prognosisnya baik, dan penyembuhan terjadi dalam waktu 2-3 minggu. Kematian berkisar antara 5-15% pada kasus berat dengan berbagai komplikasi atau pengobatan terlambat dan tidak memadai. Prognosis lebih berat bila terjadi purpura yang lebih luas. Kematian biasanya disebabkan oleh gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, bronkopneumonia, serta sepsis. Bila disebabkan infeksi prognosisnya lebih baik daripada disebabkan alergi obat. Prognosis buruk bla kelainan meliputi 50-70% permukaan kulit.

 

  1. Pengkajian
  1. Riwayat Kesehatan

Adakah alergi obat dan makanan

  1. Pemeriksaan fisik

Infeksi : Warna, bau, edema ( lesi, sianosis, ikterus )

  1.  Diagnosa Keperawatan
  1.  DX 1 : Kerusakan integritas kulit b.d perubahan fungsi barier kulit.

Intervensi :

-        Kaji kulit terhadap efek samping terapi kanker

-        Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan

-        Anjurkan memakai pakaian yang lembut dan longgar

 

  1.  DX II : Nyeri b.d kerusakan kulit / jaringan

Intervensi

-        Kaji keluhan nyeri

-        Ubah posisi sesering mungkin

-        Manajemen stress dan relaksasi

 

  1. DX III : Infeksi b.d Pertahanan primer tidak adekuat

Intervensi :

-        Teknik aseptic

-        Implementasi teknik isolasi sesuai indikasi

-        Bersihkan jaringan nekrotik

-        Berikan agen topical

  1.  DX IV :  Kurang pengetahuan tentang kondisi/prognosis b.d kurang terpajan / mengingat 

Intervensi

-        Kaji ulang prognosis dan harapan yang akan datang

-        Jelaskan proses jaringan perut dan perlunya untuk menggunakan pakaian penekan yang tepat bila menggunakan.

-        Indtifikasi tanda – tanda gejala yang memerlukan evaluasi

-        Identifikasikan sumber komonitas contoh pusat krisis, kelompok penyembuhan

  1.  Evaluasi
  1. Menunjukan regenerasi jaringan
  2. Melaporkan nyeri berkurang atau terkontrol
  3. Menunjukan ekpresi wajah / postur tubuh rileks
  4. Berpartisipasi dalam aktivitas dan tidur atau istirahat dengan cepat
  5. Mencapai pemulihan luka tepat waktu
  6. Bebas dari drainase purulen / eritema dan demam

BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

 Sindrom Steven-Johnson (SSJ) merupakan suatu kumpulan gejala klinis erupsi mukokutaneus yang ditandai oleh trias kelainan pada kulit vesikulobulosa, mukosa orifisium serta mata disertai gejala umum berat

Sindrom Stevens-Johnson pertama diketahui pada 1922 oleh dua dokter, dr. Stevens dan dr. Johnson, pada dua pasien anak laki-laki. Namun dokter tersebut tidak dapat menentukan penyebabnya.

 

B.    Saran

alhamdulillah, makalah ini dapat kami selesaikan tanpa halangan apapun. Tetapi selama kami menyusun makalah ini, kami merasa banyak kekurangan, semoga  isi tentang SSJ, penangannya, penyebabnya, dll. sedikit memberi pengetahuan dan gambaran oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

v Doengos, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Buku Kedokteran

EGC : Jakarta.

v  Mansjoer, Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran edisi 3, jilid 2. Media

Aesculapius : Jakarta

v Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &

Suddarth, edisi 8, volume 3. Buku Kedokteran EGC : Jakarta.

v www.medicastore.com

Askep Asuhan Keperawatan Sindrom Stevens Johnson

under arsip:  Perkulihan.com.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*