Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Aplikasi Sosial Keagamaan dalam Pendidikan Islam

makalah / artikel Aplikasi Sosial Keagamaan dalam Pendidikan Islam

under arsip:  Perkulihan.com.

Judul postingan : Makalah /artikel Aplikasi Sosial Keagamaan dalam Pendidikan Islam

Bidang  postingan  : Aplikasi Sosial Keagamaan dalam Pendidikan Islam

Perkuliahan.com, dalam upaya menambah wacana dan  khasanah keilmuan pendidikan, terutama dalam Pendidikan Islam maka perkuliahan.com berusaha untuk berkontribusi dalam mewujudkanya. Melalui makalah dan artikel ringan diharapkan  bisa sedikit memberi warna dunia pendidikan, walaupun dalam postingan perkuliahan.com belum bisa diketegorikan sebagai wacana / artikel ilmiah atau sebagai makalah pendidikan, namun hidup harus optimis dan selalu melakukan hal yang paling mudah dan terbisa saat ini. (lagi pengen meramaikan Google dan  Yahoo he)

Serial postingan perkuliahan.com kali ini mengangkat beberapa materi yang terkait dan berkesinambungan dalam dimensi pendidikan Islam, diantaranya beberapa wacana kecil tentang, Pengertian Pendidikan Islam, Dasar Filosofis Pendidikan Islam,Tujuan  Pendidikan Islam, Metode Pendidikan Islam, Kurikulum dan Materi Pendidikan Islam, Evaluasi Pendidikan Islam, Sosial Keagamaan, Dimensi Sosial Keagamaan, Peran Sosial Keagamaan dalam Pendidik Islam, Aplikasi  Sosial Keagamaan dalam Pendidikan Islam, Pendidikan Islam dalam Perspektif  Sosial Keagamaan.

Selanjutnya memposting juga  mengenai hubungan strategis dalam keilmuan yang mendukung  yaitu wacana tentang, Hakekat Manusia dalam Perspektif Islam,  Kedudukan Manusia dalam Konteks Pendidikan Islam

 

Aplikasi Sosial Keagamaan dalam Pendidikan Islam

Oleh : Mizanto, S.Pd.I

(Mhz. Universitas Sains Al-Qur’an ( UNSIQ ) Jawa Tengah di Wonosobo )

 

Pluralitas  dalam masyarakat mempunyai tanggapan yang berbeda dari pendangan masyarakat secara umum, ada yang mengatakan bahwa aspek pluralisme merupakan sumber konflik sosial ditengah masyarakat, sebagaimana disampaikan Abd. Rahman Assegaf mengutip pernyataan Tobroni dan Samsul Arifin (1994: 33) sebagai berikut:

“Pluraliseme sering dipahami sebagai salah satu faktor pemicu konflik sosial” Abd. Rahman Assegaf  menambahkan pendapat dari H.M Sanusi (1998:266) , “Padahal umumnya konflik atau kerusuhan yang terjadi ditengah masyarakat disebabkan faktor dominan ketimpangan sosial,” ketimbang agama atau etnis. Assegaf mengutip lagi pendapat Baharuddin (1998:96 Umat beragama sendiri tidak rusuh dengan sesama mereka, hanya saja umat beragama dijadikan alat untuk mempercepat kerusuhan.[1]

Pentingnya pemahaman dan kesadaran akan nilai-nilai sosial yang merupakan pondasi bermasyarakat. Pendidikan Islam harus mampu menciptakan dan mengintegrasikan komponen-komponen nilai fundamental Agama  Islam, karena Islam sendiri merupakan Agama yang sangat toleran dalam hal kemasyarakatan, ini terbukti dari pesan-pesan sosial lewat Al-Qur’an maunpun Hadits Nabi, jadi pendidikan Islam disitu sangat dituntut untuk lebih menjiwai konsep Islam secara penuh, misalkan dalam Islam sangat menjunjung nilai toleransi atau tasamuh,  toleransi dalam arti membiarkan sesuatu untuk dapat saling mengizinkan, saling memudahkan.

Toleransi dalam dalam kehidupan bersosial sangatlah penting, karena makna toleransi tersebut dapat juga diartikan bertenggang rasa, bersifat atau bersikap tidak mengganggu (menentang atau mengisruhi)[2], jadi penalaran toleransi adalah kerelaan hati karena kemuliaan dan kedermawanan, kelapangan dada karena kebersihan dan ketakwaan, kelemah–lembutan  karena kemudahan.

Aplikasi atas nilai-nilai sosial keagamaan yang harus ditanamkan dalam setiap pribadi muslim membutuhkan keseriusan dalam hal ini melalui sektor kependidikan, konsep tentang toleransi beragama di atas tentunya akan terkait juga  dengan toleransi social secara umum. Sebagaimana pada penalaran  toleransi beragama,  bahwa untuk urusan akidah tidak ada toleran (dimaksud disini dalam pengertian mencampuradukan peribadatan), namun beda untuk toleransi dalam bermasyarakat. Sedangkan toleransi sosial dalam diskursus ini bisa juga dikatakan sebagai toleransi kemasyarakatan.[3]

Maka secara prinsipil pembelajaran dan pemahaman atas prinsip-prinsip sosial keagamaan dalam kehidupan sosial harus dibangun melalui sikap yang menyadarkan dan membimbing,  dan melalui pendekatan yang dimanis,tidak dengan unsur doktrinal yang rigid, sebagaimana agama  yang memberi ruang  kebebasan dalam memeluk agama dan keyakinan masing-asing, atau dalam bahasa Al-Qur’an  “lakum dinukum waliyaddin”, sedangkan dalam kehidupan sosial, aplikasi nilai-nilai dan etik sosial keagamaan oleh seorang muslim adalah suatu keniscayaan yang harus dilaksanakan dengan baik, karena memang dianjurkan oleh Allah SWT.[4]

Pendidikan Islam maupun secara umum pendidikan keagamaan  dalam masalah sosial keagamaan mempunyai peranan yang sangat besar,  karena konflik atas nama agama sangat mudah tersulut jika tidak dilandasi nilai-nilai pendidikan yang didasarkan atas doktrin agama yang inklusif. Sehingga disini pentingya upaya memahami dan mengamalkan nilai-nilai toleransi dalam sosial keagamaan menjadi tuntutan yang harus  diajarkan dan ditanamkan dalam satu konsep kependidikan dengan mengacu kepada nilai-nilai pendidikan Islam.

 



[1]  Abd. Rahman Assegaf, Politik Pendidikan Nasional,  Kurnia Kalam, Yogyakarta, 2005, hal.262-263.

[2] Pius Partanto dan M. Dahlan Al Barry, Kamus Ilmiah Populer, PT Arkola, Surabaya, 1994, hlm. 777.

[3] Mohammad Daud Ali,  Pendidikan Agama Islam, PT Raja Grafindo, Jakarta, 1998,   hlm. 436.

[4] Ibid., hlm. 432.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*