Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

5 Kerangka Pokok Dalam Kehidupan

5 Kerangka Pokok Dalam Kehidupan
Under arsip:  Perkuliahan.com.
Post title : 5 Kerangka Pokok Dalam Kehidupan
Post  Category   : 5 Kerangka Pokok Dalam Kehidupan , makalah tentang kehidupan, pondasi pokok kehidupan
 data post: perkuliahan.com edition of : 108

Berikut kajian dan materi yang akan kita pelajari bersama perkuliahan.com, kali ini adalah materi seputar pokok kehidupan, dalam tulisan hibahan dari sobat perkuliahan.com ini akan membahas tentang makna dan kerangka dalam kehidupan, namun dalam tinjauan ini akan lebih bersifat umumdalam masyarakat.

5 Kerangka Pokok Dalam Kehidupan

Untuk menganalisa semua sistem nilai budaya dari semua kebudayaan yang ada di dunia, seorang ahli antropologi terkenal Clyde Cluchohn, menemukan lima kerangka pokok dalam kehidupan. Dengan konsep tersebut C. Cluckhohn bersama dengan istrinya (Florence Cluckhohn), ia mengembangkan suatu kerangka yang dapat dipakai oleh para ahli antropologi untuk menganalisa secara universal tiap variasi dalam sistem nilai budaya dalam semua macam kebudayaan yang ada di dunia. Kelima masalah dasar dalam kehidupan manusia yang menjadi landasan bagi kerangka variasi sistem nilai budaya adalah :

1.      Masalah mengenai hakekat dari hidup manusia (selanjutnya disebut MH).

2.      Masalah mengenai hakekat dari karya manusia (selanjutnya disebut MK).

3.      Masalah mengenai hakekat dari kedudukan manusia dalam ruang waktu (selanjutnya disebut MW).

4.      Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan alam sekitar (selanjutnya disebut MA).

5.      Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan sesamanya (selanjutnya disebut MM).[1]

Cara berbagai kebudayaan di dunia mengkonsepsikan kelima masalah universal tersebut di atas itu mungkin berbeda-beda, walaupun kemungkinan untuk bervariasi itu terbatas adanya, misalnya mengenai masalah pertama (MH), ada kebudayaan yang memandang hidup manusia itu pada hakekatnya suatu hal yang buruk dan menyedihkan, dan karena itu harus dihindari. Kebudayaan-kebudayaan yang terpengaruh oleh agama Budha misalnya dapat disangka mengkonsepsikan hidup itu suatu hal yang buruk. Pola-pola tindakan manusia akan mementingkan segala usaha untuk menuju ke arah tujuan untuk dapat memadamkan hidup itu (nirvana = meniup habis) dan merehkan segala tingkatan yang hanya mengekalkan rangkaian kelahiran kembali (samsara). Adapun kebudayaan-kebudayaan lain memandang hidup manusia itu pada hakekatnya buruk, tetapi manusia dapat mengusahakan untuk menjadikannya suatu hal yang baik dan mengembirakan.

Mengenai masalah kedua (MK), ada kebudayaan-kebudayaan yang memandang bahwa karya manusia pada hakekatnya bertujuan untuk memungkinkan hidup kebudayaan lagi menganggap hakekat dari karya manusia itu untuk memberikannya suatu kedudukan yang penuh kehormatan dalam masyarakat, sedangkan kebudayaan-kebudayaan lain lagi menganggap hakekat karya manusia itu sebagai suatu gerak hidup yang harus menghasilkan lebih banyak karya lagi.

Kemudian mengenai masalah ketiga (MW), ada kebudayaan-kebudayaan yang memandang penting dalam kehidupan manusia itu masa yang lampau. Dalam kebudayaan-kebudayaan serupa itu orang akan lebih sering mengambil sebagai pedoman dalam tindakannya, contoh-contoh dan kejadian-kejadian dalam masa yang lampau. Sebaliknya, ada banyak pula kebudayaan dimana orang hanya mempunyai suatu pandangan waktu yang sempit. Warga dari suatu kebudayaan serupa itu tidak akan memusingkan diri dengan memikirkan zaman yang lampau maupun masa yang akan datang, mereka hidup menurut keadaan yang ada pada masa sekarang ini. Kebudayaan-kebudayaan lain lagi malah justru memntingkan pandangan yang berorientasi sejauh mungkin terhadap masa yang akan datang, dalam kebudayaan serupa itu perencanaan hidup menjadi suatu hal yang penting.

Selanjutnya menganai masalah keempat (MA), ada kebudayaan-kebudayaan memandang alam sebagai suatu hal yang begitu dahsyat sehingga manusia pada hakekatnya hanya dapat bersifat menyerah saja tanpa dapat berusaha banyak, sebaliknya banyak pula kebudayaan lain yang memandang alam sebagai suatu hal yang dapat dilawan oleh manusia dan mewajibkan manusia untuk selalu berusaha menaklukkan alam. Kebudayaan lain lagi menganggap bahwa manusia hanya dapat berusaha mencari keselarasan dengan alam.

Akhirnya mengenai masalah kelima (MM) ada kebudayaan-kebudayaan yang sangat mementingkan hubungan vertikal antara manusia dengan sesamanya. Dalam tingkah lakunya manusia yang hidup dalam suatu kebudayaan serupa itu akan berpedoman kepada tokoh-tokoh pemimpin orang-orang senior, atau orang-orang atasan. Kebudayaan lain lebih mementingkan hubungan horizontal antara manusia dengan sesamanya. Orang dalam suatu kebudayaan serupa itu akan sangat merasa tergantung kepada sesamanya, dan usaha untuk memilihara hubungan baik dengan tetangganya dan sesamanya merupakan suatu hal yang dianggap sangat penting dalam hidup, kecuali itu ada banyak kebudayaan lain yang tidak membenarkan anggapan bahwa manusia itu tergantung kepada orang lain dalam hidupnya. Kebudayaan-kebudayaan serupa itu, yang sangat mementingkan individualime, menilai tinggi anggapan bahwa manusia terus berdiri sendiri dalam hidupnya, dan sedapat mungkin mencapai tujuannya dengan bantuan orang lain sedikit mungkin.


[1] Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi,

Under arsip:  Perkuliahan.com.

Post title : 5 Kerangka Pokok Dalam Kehidupan

Category: Makalah-Makalah

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*