Perkuliahan.com

Materi Kuliah, makalah pendidikan, beasiswa kuliah

Cara Memperkuat Jaringan antar Kader IPNU-IPPNU

Kencangkan Sabuk Jaringan antar Kader di Era Globalisasi

 

Tepatnya sudah 60 tahun IPNU dan 59 tahun IPPNU berjuang dalam selubung wadah kaderisasi di naungan NU yang semakin membara dalam semangat juang yang tinggi. Sudah banyak perubahan yang dibawa oleh insan-insan terpelajar dengan membawa segenggam perjuangan titik darah penghabisan. Namun itu bagi mereka yang sadar bahwa arti sebuah perjuangan yang murni untuk dikorbankan dalam jiwa raga, hegemoni kebersamaan yang begitu mengental sejatinya ada dalam ranah pelajar yang masing-masing mempunyai kelebihan sehingga menjadi ketepaduan antara pertukaran kemampuan yang dimiliki masing-masing penerus bangsa hingga menyelubungi indahnya ikatan yang bermakna bagi sejarah.

Kini saatnya membincangkan dimana realita perubahan yang telah diperjuangkan tersebut, karena makna dari perubahan bukan hanya bersifat material bahkan dapat dikatakan sebagai sesuatu penjelmaan yang tidak ada menjadi sesuatu yang ada. Namun perubahan disini yaitu kader itu sendiri yang menjadi objek dalam perubahan dunia atau biasa disebut dengan Agen of change, karena IPNU-IPPNU adalah organisasi pelajar yang sejak kelahirannya disiapkan sebagai wadah kaderisasi Nahdlatul Ulama (NU). Karena itulah agenda kaderisasi menjadi “titik tempur” utama. Apakah kini kader IPNU-IPPNU telah semakin memayoritas atau bahkan meminoritas dikalangan pelajar?. Apakah penyebab pencurian kader IPNU-IPPNU?. Bagaimana cara kita membentengi dari pencurian tersebut?. Pertanyaan tersebut  menjadi marak diperbincangkan secara intim dalam dunia pelajar khususnya kader muda NU ini. Begitu merujuk pada tujuan kalangan minoritas bahwa IPNU-IPPNU masa depan harus dapat melahirkan kader-kader yang tidak hanya tangguh secara intelektual dan memiliki keunggulan akhlaq serta terampil berorganisasi, melainkan juga siap tempur di medan peradaban yang semakin kompleks.

Kembalinya Ikatan Putra Nahdlatul Ulama ke Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama yang di hasilkan pada kongres di Surabaya XIV tahun 2003 dan di mantapkan pada kongres di Jakarta tahun 2006, menjadi prasasti sejarah bagi era baru perjuangan IPNU merambah dunia pendidikan. Implikasi dari perubahan orientasi kembali ke pelajar adalah memperjuangkan terpenuhinya hak-hak pelajar. Tidak sekedar melakukan proses kaderisasi melalui institusi pendidikan, lebih dari sekedar itu harus terumuskan pula secara filosofi, strategi memperjuangkan dunia pendidikan Indonesia di era globalisasi saat ini. Dunia pendidikan saat ini memasuki ruang kehawatiran (gelap), pribadi pendidikan di negeri ini dis-orientasi, akibatnya target pendidikan kehilangan arah. Mulai dari regulasi yang tidak berpihak pada rakyat, kurikulum yang tidak konstektual, manajemen yang tidak transparan, sarana prasarana yang tidak memadai, serta yang menjadi maraknya perbincangan sekarang yakni pencurian subjek (kader) dalam wadah IPNU-IPPNU yang tergolong mamasuki ruang pendidikan.

Sebuah organisasi akan surfive ketika organisasi tersebut memiliki daya tarik yang baik dan manajemen yang solid. Karna pada hakikatnya IPNU-IPPNU bergerak di bidang agama dan hakikat agama adalah doktrin, maka pencurian yang dilakukan terbatas pada bagaimana publik melihat prospek kedepan sebuah organisasi. Selama ini kader muda NU hanya memandang ideologi dari mana mereka mengikuti organisasi yang dalam ranah sosial yang ada disekelilingnya, jadi masalah yang ada selama ini mereka masuk IPNU-IPPNU hanya dari faktor kultural, yaitu jika nenek moyang kita orang NU maka kitalah yang hanya  mengikuti tradisi budaya nenek moyang tersebut .

Paulo Frerie seorang tokoh terkemuka menyatakan bahwa “Konsep pendidikan tidak lepas dari faktor ekonomi”. Masih banyak kekurangan dalam menuju keberhasilan pendidikan jika keberhasilan dalam hal ekonomi masih sangat miris. Begitupun dengan organisasi, IPNU-IPPNU merupakan organisasi yang bergerak dibidang pendidikan. Kader akan merasa nyaman dan tertarik dalam organisasi yang menggiurkan bagi masa depannya. Jika organisasi yang tidak memiliki kader maka organisasi tersebut akan “bubar”. Dengan demikian bagaimana suatu orgnisasi tersebut mempunyai manajemen yang baik bila dalam merekrut kadernya pastilah dengan beribu cara seperti contoh melalui cara “mengiming-imingi” sesuatu yang dapat menarik meski harus dengan jalan pencurian yang bersifat empirik maupun laten.

Mengapa kini IPNU-IPPNU baru merasa sadar bahwa disekitar kanan dan kirinya mulai kehilangan kader yang justru menjadi tiang-tiang guna membantu rapuhnya bangunan yang nyaris roboh. Perlu kita ketahui faktor dari organisasi yang tercuri itu karna adanya sesuatu yang kurang menarik. Organisasi yang surfive yakni organisasi yang mengikuti kadernya, dimana organisasi harus memberikan layanan kepada kadernya karna di era globalisasi saat ini bukan lagi berinterpretai “tanyakan apa yang diberikan kader kepada organisasinya” namun yang ada saat ini yaitu “tanyakan apa yang diberikan organisasi kepada kadernya”. Seperti ajaran dalam agama islam adalah agama yang mngikuti perubahan, jika suatu agama tidak mau mengikuti perkembangan zaman maka secara otomatis akan tertinggal dan tidak terbentuk insan yang berkualitas. Akan sangat miris jika suatu organisasi tidak mau mngikuti perkembangan sesuai arus yang secara cepat bergerak melintasi dunia pendidikan.

Apalagi jika kader IPNU-IPPNU yang notabennya berjaring dalam pendidikan maka tak lepas dengan hal ekonomi, dengan maraknya pencurian kader karena adanya layanan yang kurang menarik dalam kancah fasilitas pendidikan. Kita perlu menyadari bahwa fakta sosial itu merupakan hal yang wajar dalam memperebutkan kader, meski sebenarnya bukan dalam artian menyalahkan, namun kesadaran dari kader sendiri yang kemudian lebih memilih organisasi lain bahkan berpindah tempat karna memang realitanya begitu empirik dari organisasi yang mempunyai layanan dan sarana yang menarik untuk masa depan individu. Seperti contohnya organisasi yang lebih menawarkan beasiswa bagi setiap kader yang tergabung didalamnya. Memang begitu luar biasa manajemen taktik yang dilakukan secara antusias dan konkrit saat konsep itu teraktualisasi dan hadir dalam masyarakat. Namun, apakah kita tetap diam dalam menghadapi kejadian itu atau bahkan mungkin kita hanya membiarkan yang dirasa sepele dan berpersepsi bagaikan angin badai yang berlalu. Perlu diingat, bahwa suatu kejadian dikatakan menjadi momok perbincangan jika terjadi berulang kali bahkan menjadi kebiasaan bahkan dinamakan sebuah adat atau karakteristtik golongan. Ini menjadi gejala yang tumbuh bagaikan pohon yang subur, tapi bagaimana cara kita agar IPNU-IPPNU menjadi organisasi yang bukan saja mengkader, namun mengkadernya dan kemudian bertanggungjawab menjaga kadernya dari sergapan kegoyahan hal lain serta lebih mengencangkan sabuknya.

Untuk mengantisipasi pencurian kader atau dapat dikatakan sebuah cara agar kita tetap bisa berjuang dengan kader yang bertambah namun tetap setia kepada organisasinya. Pertama, yakni melalui tindakan preventif, yang dilakukan  adalah meningkatkan pendidikan moral dan karakter untuk membangun sebuah tatanan masyarakat yang lebih harmonis. Salah satunya dengan dasar tujuan adalah melalui pengkaderan yakni melewati pelatihan atau yang biasa disebut makesta, dan kemudian dilanjut dengan lakmud. Posisi itulah menjadi sasaran empuk dimana calon kader disuplai berbagai doktrin yang mampu menguatkan pedoman bagi kadernya. Pencurian kader ini bisa dicegah pula dengan memberikan pemahaman dan publikasi lebih lanjut pada calon kader agar mereka lebih tau dan kenal akan potensi yang dibangun lewat jaringan IPNU-IPPNU. Masalah yang ada selama ini mereka masuk IPNU-IPPNU hanya dari faktor kultural saja. Sangat luar biasa jika ada salah satu kader yang mengikuti organisasi dibangun karna diri sendiri yang disebabkan organisasi tersebut memberikan layanan yang mampu mengubah dirinya menjadi terkesan baik dalam menilainya.

Kedua, IPNU-IPPNU harus mampu memberikan layanan yang dibutuhkan para kadernya. Karna kader dapat bergerak jika terdapat hal yang menjadi perantara sebuah langkah perjuangan. Seperti halnya yang sedang marak dalam dunia pendidikan yakni banyak organisasi yang memberikan beasiswa bagi kadernya. Bahkan sesungguhnya IPNU-IPPNU pun memiliki beasiswa yang diperuntukkan bagi kadernya yang dilakukan oleh NU. Namun kini belum ada hal yang konkrit bahwa adanya beasiswa yang dikeluarkan dari NU tersebut. Jika NU belum ada informasi yang bergerak cepat sedangkan kadernya sudah ingin memerlukan  secara cepat maka itu yang dinamakan dengan miss-komunikasi. Itu juga menjadi penyebab utama mengapa kader saat ini tidak tau bahkan tak mau tau adakah layanan tersebut. Kembali kepada komunikasi bahwa  memang perlu diadakannya jaringan antara ketua dan jajarannya serta kader-kader tersebut. Dari mulai hal kecil bagaimana kita mengetahui latarbelakang sebuah kader agar kita lebih menulusuri bahkan ikut mencampuri masalah salah satu kader yang kurang mengkontribusikan semangat juangnya pada organisasi tersebut. Jadi, permasalahannya kita perlu mengetahui dasar psikologi kader yang merupakan awal tindakan memenuhi layanan yang kita berikan kepada kader.

Ketiga, kita dituntut melahirkan kader-kader yang minimalnya dapat bersifat dan bersikap intelektual, update segala macam informasi. Jadi percuma saja jika kita berlimpah informasi yang menawarkan pelayanan bagi kader namun kita tidak mau mencari informasi tersebut. Namun itu juga tak lepas dari faktor keterbatasan dalam mengakses informasi, maka harus adanya kesinambungan dalam kader supaya terbentuk jaringan yang berkomando satu. Dari departemen atau divisi advokasi seharusnya memberikan layanan seperti contoh informasi lowongan beasiswa yang kini sangat dibutuhkan kader-kader dalam menempuh pendidikan. Hal tersebut sangat menggiurkan jika benar-benar diimplementasikan dalam dunia nyata bukan hanya dunia maya. Selain itu, terjalinnya keaktifan komunikasi antar alumni kader, dalam artian dapat bertukar informasi yang mungkin nanti dapat menjadikan peluang bagi kader baru kedepan. Hindarilah miss-komunikasi antar kader yang telah sukses, karena suatu peluang suksesnya kader bukan dari induk organisasi tersebut namun bagaimana salah seorang kader mampu mencari peluang bahkan mengusulkan sebuah peluang dan pada akhirnya dijadikan sebuah apresiasi yang bukan hanya bagus namun memiliki daya tarik yang tinggi, relevansinya terhadap kader bahwa organisasi tersebut haruslah semakin kuat dalam mengencangkan sabuk kekerabatan dan kebersamaan yang terjalin dan kemudian pada akhirnya mampu meninggikan citra baik kader dalam wadah IPNU-IPPNU.

Judul Tesis dan Disertasi Pendidikan Islam 15 Judul ( Part 2)

  • Under arsip:  Perkuliahan.com.
    Post title : Judul tesis dan disertasi s2 s3 pendidikan
    Post  Category   :  Judul tugas akhir tesis dan disertasi
     post: Perkuliahan.com. edition of : 164 Contoh Judul Tesis dan Disertasi Pendidikan ( Part 1)

    ___________________________________

  • Konsep Ta’lim dalam Alquran (Suatu Kajian Tafsir) Tesis Pendidikan Islam IAIN/UIN Alaudin Makasar 26 Nopember 1992  (Penyusun tesis : Drs. Nasir A. Baki, M.Ag )
  • PESANTREN ANAK-ANAK SEDAYU GRESIK JAWA TIMUR Disertasi Pendidikan Islam IAIN/UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta 23 Mei 1995  (Penyusun : Dr. H. Imam Bawani ) dok. Perkuliahan.com
  • Pemikiran politik Persatuan Tarbiyah Islamiyah 1945-1970 Disertasi Pendidikan Islam IAIN/UIN Sunan Ampel Surabaya – Tahun 1995 ( penyusun : Alaiddin)
  •   Continue reading